Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam tanaman. Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen memiliki struktur yang
cukup sederhana dan diproduksi dari hasil
metabolisme normal dalam tanaman. Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan
daun. Etilen sering dimanfaatkan oleh para distributor dan importir buah.
Buah dikemas dalam bentuk belum masak saat diangkut pedagang buah.
Setelah sampai untuk diperdagangkan, buah tersebut diberikan etilen
(diperam) sehingga cepat masak. Dalam pematangan buah, etilen bekerja dengan cara
memecahkan klorofil pada buah muda,sehingga buah hanya memiliki xantofil dan
karoten. Dengan demikian, warna buah menjadi jingga atau merah (Kusumo, 1990).
Etilen yang
diproduksi oleh setiap buah memberi efek komulatif dan merangsang buah lain
untuk matang lebih cepat. Buah berdasarkan
kandungan amilumnya, dibedakan menjadi buah klimaterik dan buah nonklimaterik.
Buah klimaterik adalah buah yang banyak mengandung amilum, seperti pisang,
mangga, apel dan alpokat yang dapat dipacu kematangannya dengan etilen. Etilen
endogen yang dihasilkan oleh buah yang telah matang dengan sendirinya dapat
memacu pematangan pada sekumpulan buah yang diperam. Buah nonklimaterik adalah
buah yang kandungan amilumnya sedikit, seperti jeruk, anggur, semangka dan
nanas. Pemberian etilen pada jenis buah ini dapat memacu laju respirasi, tetapi
tidak dapat memacu produksi etilen endogen dan pematangan buah.
Proses Klimaterik dan pematangan buah disebabkan adanya perubahan kimia yaitu
adanya aktivitas enzim piruvat dekanoksilase yang menyebabkan keanaikan jumlah
asetaldehid dan etanol sehingga produksi CO2 meningkat. Etilen yang
dihasilkan pada pematangan mangga akan meningkatkan proses respirasinya. Tahap
dimana mangga masih dalam kondisi baik yaitu jika sebagian isi sel terdiri dari
vakuola.
Perubahan
fisiologi yang terjadi selama proses
pematangan adalah terjadinya proses respirasi kliamterik, dalam proses
pematangan oleh etilen mempengaruhi respirasi klimaterik melalui dua cara, yaitu
(Abidin,
1985):
1.
Etilen
mempengaruhi permeabilitas membran, sehingga permeabilitas sel menjadi besar,
hal tersebut mengakibatkan proses pelunakan sehingga metabolisme respirasi
dipercepat.
2.
Selama
klimaterik, kandungan protein meningkat dan diduga etilen lebih merangsang
sintesis protein pada saat itu. Protein yang terbentuk akan terlihat dalam
proses pematangan dan proses klimaterik mengalami peningkatan enzim-enzim
respirasi.
REFERENSI
Abidin,
Z.1985.Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang
Zat Pengatur Tumbuh.Bandung : Angkasa.
Kusumo, S.1990.Zat
Pengatur Tumbuhan Tanaman. Jakarta : Yasaguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar